Legenda Pasar Sibreh: 46 Tahun “Mie Nek Raga”, Murah Meriah Mulai Rp3 Ribu

  • Bagikan

ACEH BESAR | SaranNews — Hiruk-pikuk Pasar Rabu Sibreh, Kabupaten Aceh Besar, tak pernah surut setiap pekannya. Di tengah keramaian transaksi warga pada Rabu (7/1/2026), lapak sederhana milik Khadijah tampak paling sibuk dikerubungi pembeli.

Wanita paruh baya yang akrab disapa “Nek Raga” ini adalah legenda hidup di pasar mingguan tersebut. Bukan tanpa alasan, julukan itu melekat karena ciri khasnya yang unik: menjajakan dagangan menggunakan wadah keranjang besar atau dalam bahasa Aceh disebut raga.

Khadijah bukan pedagang baru. Ia telah menggeluti usaha ini sejak tahun 1980. Artinya, sudah 46 tahun ia setia melayani lidah pelanggan dengan resep yang tak berubah.

“Alhamdulillah, kalau pasar ramai bisa habis sampai 25 kilo mie kuning. Kalau mie kecil (bihun/mie hun) biasanya sekitar empat sampai lima kilo,” ujar Khadijah di sela-sela melayani pembeli.

Menu andalannya adalah mie campur dengan kuah dan sambal pedas khas rumahan. Tak hanya mie, daya tarik utamanya justru pada lauk pelengkap. Deretan perkedel, tahu bacem, hingga rendang jengkol tersusun rapi di dalam raga, menggugah selera siapa saja yang lewat.

Soal harga, Khadijah seolah tak mau memberatkan pelanggannya. Di tahun 2026 ini, ia masih menjual mie bungkus mulai dari harga Rp3.000 saja.

“Harga mie mulai tiga ribu, bisa sesuai permintaan pembeli. Kalau lauk seperti jengkol, tahu, dan perkedel saya jual lima ribu per bungkus,” tuturnya.

Ketekunan Khadijah selama hampir setengah abad menjadi bukti nyata bahwa kuliner tradisional pasar rakyat masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Aceh Besar. (Sr)

Penulis: SaririlEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *