Petani Kluet Utara Menjerit, Pemkab Aceh Selatan Jangan “Tidur” di Musim Panen, Segera bertindak

  • Bagikan

Oleh: Redaksi SaranNews

Jeritan petani di Kluet Utara pekan ini bukan sekadar keluhan biasa tentang harga gabah. Itu adalah bunyi alarm tanda bahaya bagi ketahanan pangan Aceh Selatan. Ketika petani dipaksa membayar biaya panen (kombin) dan angkut hingga Rp38.000 per karung, sementara harga gabah hanya Rp6.500 per kilogram, maka sesungguhnya mereka sedang “dirampok” secara sistematis oleh keadaan.

Ironisnya, keadaan ini tercipta karena absennya negara. Jalan usaha tani yang belum tersedia secara masif dan yang sudah rusak parah memaksa petani mengeluarkan biaya ganda untuk melansir gabah. Mesin panen (combine harvester) yang seharusnya menjadi alat bantu, justru berubah menjadi alat monopoli harga oleh swasta karena minimnya intervensi pemerintah.

Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, khususnya Plt. Bupati dan Dinas Pertanian, tidak bisa lagi berlindung di balik alasan klasik “anggaran terbatas”. Solusi ada di depan mata jika ada kemauan politik (political will).

Redaksi mencatat setidaknya tiga langkah darurat yang harus diambil sekarang, bukan tahun depan:

  1. Turunkan Brigade Alsintan: Kerahkan semua mesin panen bantuan pemerintah (APBN/APBK) ke titik-titik panen raya. Tetapkan tarif sewa pemerintah yang murah untuk menekan harga pasar swasta yang liar. Bantuan miliaran rupiah tahun lalu itu untuk rakyat, bukan pajangan dinas.
  2. Darurat Jalan Tani: Jangan menunggu tender proyek besar. Lakukan penimbunan sirtu secara swakelola sekarang juga di jalur-jalur krusial agar truk bisa masuk. Dinas PUPR dan Pertanian harus berkolaborasi, bukan saling lempar tanggung jawab.
  3. Regulasi Tarif: Terbitkan Peraturan Bupati (Perbup) atau setidaknya Surat Edaran tentang Batas Atas tarif sewa mesin panen. Lindungi petani dari praktik “getok harga” saat posisi tawar mereka lemah.

Ingat, kegagalan menangani masalah di Kluet Utara hari ini adalah cerminan kegagalan Pemkab dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya. Jangan sampai petani kita memilih berhenti menanam karena merasa pemerintahnya lebih sibuk mengurus politik daripada mengurus perut rakyat. Selamatkan petani Aceh Selatan, atau kita bersiap menghadapi krisis pangan yang nyata.[red]

Penulis: Tim Redaksi sarannews.netEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *