ACEH SELATAN – Di tengah kepungan lumpur banjir dan ancaman longsor yang masih menghantui, sebuah ironi kolosal sedang terjadi di Aceh Selatan. Rakyat disuguhkan dua babak drama kepemimpinan yang kontras: pertama, pemerintah daerah secara administratif “angkat tangan” melalui surat pernyataan ketidaksanggupan menangani bencana; kedua, sang pemimpin daerah secara fisik “angkat kaki” menuju Tanah Suci.
Di saat rakyat membutuhkan kehadiran fisik pemimpinnya untuk menavigasi krisis, Bupati Aceh Selatan tampaknya memilih “jalur langit”. Mungkin, karena anggaran dan daya upaya di dunia dinilai sudah buntu (sesuai surat yang diteken awal Desember 2025 lalu), melapor langsung kepada Sang Pencipta dianggap sebagai solusi pamungkas.
Doa Netizen: Sindiran Berbalut “Amin”
Fenomena ini memicu reaksi publik yang unik. Bukannya marah meledak-ledak, warga justru mendoakan sang Bupati dengan gaya satire yang menohok. Akun Facebook Kota Banda Aceh menjadi salah satu yang paling vokal menyuarakan “kekaguman” atas prioritas sang pemimpin.
“Semoga pak Bupati diterima Ibadahnya oleh Allah, smoga juga warga nya ikhlas menerima keberangkatan Pak Bupati,” tulis akun tersebut.
Lebih jauh, akun itu menitipkan pesan agar Bupati tidak menyia-nyiakan kesempatan bertemu Tuhan untuk melaporkan betapa beratnya beban jabatan yang kini ditinggalkannya sejenak.
“Jangan lupa sampaikan pada Allah langsung pak Bup, betapa tanggung jawabnya anda sebagai pemimpin, betapa rindunya hati mu menjumpai Allah dibandingkan harus mengurus daerah yang menjadi tanggung jawabmu,” sindir akun itu lagi.
“Entah ada kepentingan apa sama Allah hingga umrah mu tak bisa kau tunda, sepertinya Allah pun akan melimpahkan rahmatnya atas prioritas yg kau pilih pak bup (sepertinya) kami tak mau menerka-nerka, itu gak Prerogatif Allah,” tambahnya.
Kritik terhadap mentalitas kepemimpinan ini juga datang dari netizen Gustii Oliversykes S’cuy, yang menilai tindakan ini sebagai bentuk pelarian dari pusingnya masalah duniawi.
“Ini contoh bukan jiwa pemimpin , Tapi jiwa seseorang yang hidup nya ga mau pusing maka nya calonkan bupati.. Kalo mau tau jiwa seseorang pemimpin sering2 baca bagaimana kepemimpinan Sayyidina umar bin khatab RA,” tulis Gustii.
Sementara netizen lain, Heri Handoyo, mengajak masyarakat berkaca bahwa pemimpin adalah cerminan dari pemilihnya, terutama terkait politik uang.
“Tul x di balik itu semua masih salah yg memilih karena memilih bkn berdasarakan calon pemimpin yg mempunyai integritas dan kapasitas seorang pemimpin memilih berdasarkan siapa yg kasih uang apa lagi nilainya besar,” tulis Heri.
Dua Ziarah yang Berbeda: Makam Nabi vs Korban Longsor
Namun, di balik riuh rendah komentar medsos, ada kenyataan perih yang menyayat hati. Kontras paling tajam bukan pada surat dinas, melainkan pada tujuan perjalanan. Saat Bupati khusyuk berziarah ke makam Nabi, warganya justru sedang berjuang mati-matian untuk bisa berziarah ke makam keluarga yang menjadi korban bencana.
Mak Uni, salah seorang sumber Sarannewst, mengungkapkan perasaannya dengan nada yang terdengar tabah namun menyimpan luka mendalam.
“berbahagia sekali pemimpin kami ini, beliau mendapat panggilan berziarah ke makam Nabi, semoga ditengah bencana ini beliau dihindarkan dari rasa gundah gulana dan dukacita, kami disini sedang berjuang untuk dapat berangkat ke Sibolga, ziarah ke makan keluarga, karena ada beberapa anggota keluarga yang menjadi korban banjir dan tanah longsor disana, tiga diantaranya telah ditemukan mayatnya,” ungkap Mak Uni.
Kalimat Mak Uni menjadi penutup yang membungkam segala lelucon politik. Hari ini di Aceh Selatan, ada dua rombongan yang sedang melakukan perjalanan jauh: satu rombongan menuju Mekkah mencari pahala, dan satu rombongan menuju lokasi bencana mencari jenazah saudara.[red]










