BANDA ACEH | SaranNews – Respons terhadap penanganan bencana banjir di Aceh memanas pada Hari ini, Selasa (2/12/2025). Aliansi Mahasiswa Aceh, yang sebelumnya aktif bergerak dalam penggalangan dana kemanusiaan, kini mengubah arah gerakannya menjadi aksi protes keras terhadap pemerintah pusat dan daerah. Mereka menilai pernyataan para pejabat negara yang menyebut kondisi banjir telah membaik adalah kebohongan yang melukai perasaan korban.
Ketegangan ini bermula dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto dan Kepala BNPB yang dianggap bertolak belakang dengan temuan mahasiswa di lokasi bencana. Juru bicara Aliansi Mahasiswa Aceh dalam keterangan resminya menegaskan posisi mereka. “Kami dari Aliansi Mahasiswa Aceh, menyayangkan pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut kondisi banjir telah membaik. Sementara, fakta di lapangan masih menunjukkan penderitaan masyarakat,” ujarnya.
Kritik tidak hanya menyasar Presiden, tetapi juga otoritas kebencanaan nasional yang dinilai gagal menunjukkan rasa kepedulian. “Kami juga mengecam keras pernyataan Kepala BNPB RI yang tidak mencerminkan empati dan keseriusan negara dalam menangani bencana ini,” tambah sang orator. Di tingkat lokal, Pemerintah Aceh pun tak luput dari sorotan karena dinilai lamban merespons krisis. “Selain itu, kami menyesalkan lambannya proses Pemerintahan Aceh dalam penanganan banjir yang terus meluas dan berdampak pada ribuan warga,” tegas perwakilan mahasiswa tersebut.
Sebelum melancarkan protes ini, kelompok mahasiswa tersebut diketahui telah terjun langsung membantu warga. Sejak tanggal 27 hingga 30 November 2025, mereka mendirikan posko donasi 24 jam di depan Gedung DPRA dengan tajuk aksi #RakyatBantuRakyat. Selama periode tersebut, mereka mengumpulkan dana, sembako, dan logistik dari masyarakat untuk disalurkan ke wilayah terdampak. Pengalaman langsung di lapangan inilah yang memicu kemarahan mereka ketika mendengar klaim pemerintah yang tidak sesuai realitas.
Sebagai puncak kekecewaan, mahasiswa memutuskan untuk memindahkan pusat gerakan mereka dari gedung legislatif langsung ke pusat eksekutif. Mereka menyerukan konsolidasi massal sore ini. “Sebagai bentuk tanggung jawab moral, kami mengajak seluruh mahasiswa Aceh untuk berkonsolidasi pada Selasa, 2 Desember 2025 di halaman Kantor Gubernur, pukul 16.30 Waktu Indonesia Barat,” seru juru bicara aliansi.
Aksi sore nanti dipastikan tidak hanya sekadar orasi, namun juga pendudukan simbolis. Menutup pernyataannya, perwakilan mahasiswa memastikan perpindahan lokasi komando mereka. “Pada saat yang sama, Posko Aliansi Mahasiswa Aceh kami pindahkan ke kantor tersebut juga,” pungkasnya. Langkah ini menandai eskalasi gerakan mahasiswa dari sekadar relawan kemanusiaan menjadi kelompok penekan yang menuntut akuntabilitas negara.[red]












