BIREUEN | SaranNews – Di tengah kondisi darurat akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FKIP Universitas Syiah Kuala (USK) bergerak cepat menyalurkan bantuan langsung kepada korban terdampak di Kabupaten Bireuen. Langkah ini diambil sebagai respons kemanusiaan nyata untuk menyentuh titik-titik lokasi bencana, memastikan bantuan logistik sampai ke tangan warga tanpa melalui agenda seremonial yang berbelit.
Koordinator Lapangan aksi kemanusiaan, Iqbal, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan panggilan nurani mahasiswa melihat penderitaan warga yang terdampak. Dalam keterangannya, Iqbal juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Aceh yang telah berpartisipasi dalam gerakan ini. “Ironi paling perih adalah ketika kita hanya berdiri dan menatap luka, sementara sanak saudara kita berjuang di tengah duka,” ujar Iqbal. Ia melanjutkan, “Karena itu, kami memilih turun, bergerak, dan membantu sebisanya. Setiap tenaga dan bantuan yang kami berikan adalah ikhtiar kecil untuk meringankan beban mereka.”
Sementara itu, Ketua Umum HMI FKIP USK, Rivaldi, memberikan kritik tajam terhadap penanganan bencana yang dinilai lambat dan belum merata. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, ia menemukan fakta yang kontras dengan laporan administratif, termasuk adanya ribuan pengungsi di satu titik yang luput dari perhatian pemerintah daerah. Rivaldi menegaskan, “Ini bukan tabel data yang disusun oleh pemerintah dari balik meja kantor. Ini realita yang kami lihat langsung rumah hanyut, akses jalan lumpuh, warga bertahan hanya dengan sisa makanan seadanya. Mirisnya, masih ada titik-titik yang belum tersentuh sama sekali oleh pihak pemkab maupun pemprov bahkan sampai ada satu titik di kecamatan Juli, ada pengungsi yang di satu posko berjumlah 1.500 jiwa lebih.”
Menutup kegiatan penyaluran bantuan tersebut, Rivaldi menekankan bahwa bencana ini adalah duka kolektif yang harus ditanggung bersama. “Semoga bantuan yang kami salurkan ini dapat sedikit menguatkan saudara-saudara kita yang sedang berada dalam masa paling gelap. Bencana ini bukan hanya milik mereka, tetapi luka kita bersama,” pungkasnya. HMI FKIP USK berkomitmen untuk terus melanjutkan gerakan kemanusiaan ini tanpa menunggu instruksi, demi memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan dukungan yang layak.[red]










