BIREUEN | SaranNews – Dampak banjir bandang yang menerjang Kabupaten Bireuen kian memprihatinkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) merilis data terbaru yang menunjukkan tingginya angka korban jiwa dan kerusakan infrastruktur sanitasi warga.
Hingga Jumat (26/12/2025), data rekapitulasi BPBD mencatat sebanyak 38 orang meninggal dunia dan 3 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Bencana ini melumpuhkan 609 desa yang tersebar di 17 kecamatan.
Dampak sosialnya pun masif. Tercatat 22.944 warga terpaksa angkat kaki dari rumahnya dan bertahan di 60 titik pengungsian.
Ancaman Krisis Sanitasi Selain korban jiwa, Bireuen kini menghadapi ancaman serius pascabencana: krisis sanitasi. Banjir telah merusak 9.683 sumur gali dan 10.579 jamban milik warga. Kondisi ini memicu krisis air bersih yang parah.
Dampaknya langsung terasa pada kesehatan pengungsi. Laporan medis mencatat lonjakan kasus penyakit berbasis lingkungan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit/gatal-gatal, dan diare.
Kelompok rentan menjadi yang paling menderita dalam situasi ini. Tercatat 823 balita, 1.420 lansia, 103 ibu hamil, dan 74 penyandang disabilitas kini hidup dalam keterbatasan di lokasi bencana. (DI)










