Oleh: Redaksi Sarannews
TAPAKTUAN (13/12) – Prahara pemberhentian sementara Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan MS, telah membuka mata publik tentang betapa rapuhnya tata kelola pemerintahan di bawah rezim “MANIS”. Sebelumnya, kita telah menyorot adanya cengkeraman “6 Pembisik” atau Sengkuni yang mendominasi pendopo dan menjerumuskan Bupati ke jurang sanksi.
Namun, dalam politik, kita tidak boleh melupakan sejarah (jasmerah). H. Mirwan MS tidak menjadi Bupati karena kerja 6 orang itu saja. Ada keringat, dana, strategi, dan reputasi dari belasan tokoh senior lain yang dulu pasang badan meyakinkan rakyat Aceh Selatan untuk memilih pasangan ini.
Sayangnya, setelah kemenangan diraih, tokoh-tokoh kunci ini seolah lenyap ditelan bumi. Kabar yang beredar, mereka tersingkir oleh manuver licik para “penumpang gelap” yang baru datang saat kue kekuasaan sudah matang. Mereka menjadi barisan “Sakit Hati” yang memilih diam dan apatis.
Siapa Mereka? Redaksi mencatat setidaknya ada 12 Tokoh Kunci yang memiliki saham besar dalam mendudukkan HMW di kursi BL-1. Mereka adalah figur yang dihormati, birokrat senior, dan strategis ulung:
- Herman (Mantan Kadis Pangan)
- Samsul Rijal (Mantan Kadisdik & Asisten Bupati)
- Irfanullah
- M. Kudus
- Rasyidin (Mantan Kepala Bappeda)
- Ferizal S Salami
- T. Masduhul
- M. Yasin
- Abu Saka
- T. Rusli (Tokoh Jakarta)
- Satar
- Heldijal
Menggugat Tanggung Jawab Moral Pertanyaan besarnya kini: Di mana posisi moral Anda sekalian?
Benar, mungkin Anda sekalian telah dikecewakan. Benar, mungkin nasihat Anda tidak lagi didengar karena tertutup oleh bisikan “Sengkuni”. Benar, mungkin Anda tidak menikmati “kue” proyek APBK yang kini dikuasai segelintir orang.
Namun, di mata rakyat, Anda tetap bertanggung jawab.
Rakyat Aceh Selatan dulu memilih H. Mirwan salah satunya karena melihat siapa orang-orang di belakangnya. Rakyat percaya karena ada jaminan ketokohan Anda di sana. Ketika sekarang H. Mirwan salah arah, menabrak aturan, dan menelantarkan rakyat saat bencana, Anda tidak bisa sekadar “Cuci Tangan” layaknya Pontius Pilatus.
Sikap apatis dan diamnya ke-12 tokoh ini justru memperburuk keadaan. Pembiaran adalah bentuk partisipasi dalam kesalahan.
Panggilan untuk Bersuara Aceh Selatan butuh negarawan, bukan sekadar politisi yang merajuk saat tidak kebagian jatah. Momen transisi 3 bulan ini adalah waktu yang tepat bagi ke-12 tokoh ini untuk Turun Gunung.
Bukan untuk meminta jatah proyek kepada Plt Bupati, melainkan untuk meluruskan kiblat pemerintahan yang sudah melenceng. Berikan kritik terbuka, bongkar apa yang salah, dan bantu Plt Bupati agar tidak jatuh ke lubang yang sama.
Jika kapal “Aceh Selatan” ini karam, sejarah tidak hanya akan mencatat nama H. Mirwan dan para pembisiknya yang salah, tapi juga akan mencatat nama para pendirinya yang diam saja melihat kehancuran di depan mata.
Untuk Bapak-bapak yang namanya tersebut di atas: Rakyat menunggu suara lantang Anda. Masihkah ada kepedulian itu, atau sudah mati rasa?.[redaksi]











