Berkah di Balik Kemacetan: Kisah Zulfikar, Pedagang Asongan yang Mengais Rezeki di Jembatan Bailey Kutablang

  • Bagikan
(Foto: Dok. saranNews/Dhilal Ikhsani)

BIREUEN | SaranNews – Sistem buka-tutup di jembatan darurat (bailey) Kutablang yang kerap memicu antrean panjang kendaraan ternyata menjadi ruang penghidupan bagi sebagian warga. Di tengah kemacetan yang melelahkan, para pedagang asongan hadir menawarkan solusi bagi pengendara yang lapar dan dahaga, Sabtu (17/1/2026).

Salah satunya adalah Zulfikar, pria asal Kecamatan Juli yang telah menjajakan kacang, telur puyuh, hingga nasi bungkus di lokasi tersebut sejak jembatan darurat difungsikan. Baginya, kemacetan berjam-jam adalah peluang bisnis.

“Kalau antrean panjang, orang biasanya ingin mengemil, apalagi kalau harus menunggu sampai berjam-jam,” ujar Zulfikar yang telah menjadi pedagang asongan selama 20 tahun tersebut.

Dalam sehari, Zulfikar rata-rata memperoleh penghasilan sekitar Rp150.000. Ia mulai berjualan sejak pagi hingga pukul 18.00 WIB demi alasan keselamatan. Meski saat ini ia bergantung pada kemacetan Kutablang, Zulfikar berencana kembali ke pangkalannya di Terminal Bireuen jika kelak jembatan permanen telah rampung dibangun.

Fenomena ini menjadi potret ketangguhan masyarakat kecil dalam bertahan hidup dengan memanfaatkan celah dari situasi sulit akibat keterbatasan infrastruktur pascabencana. (DI)

Penulis: Dhilal IkhsaniEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *