Aceh Selatan | SaranNews – Krisis pelayanan di UPTD Puskesmas Blang Keujeren, Kecamatan Labuhanhaji Barat, Kabupaten Aceh Selatan, telah mencapai titik nadir. Di tengah lumpuhnya fasilitas vital seperti listrik dan air bersih yang memicu protes tenaga kesehatan, manajemen Puskesmas justru mempertontonkan ironi kepemimpinan yang menyakitkan.

Kepala Puskesmas (Kapus) Blang Keujeren, Masliza, A.Md. Keb, dinilai lebih sibuk mencari “musuh dalam selimut” daripada membenahi fasilitas yang porak-poranda.
Berburu Provokator di Apel Pagi Ketegangan memuncak pada Rabu pagi (17/12/2025). Masliza menggelar apel mendadak yang, menurut sumber internal, bernuansa intimidatif. Di hadapan barisan pegawai dan tenaga honorer, Kapus disebut meluapkan kemarahan dan berupaya mencari dalang di balik aksi protes Nakes sehari sebelumnya.
Masliza sendiri, saat dikonfirmasi Sarannews via WhatsApp, tidak menampik agenda tersebut. “Untuk mencari siapa profokator di balik aksi kmaren maka nya kami mengadakan apel,” tulisnya terang-terangan melalui pesan singkat.
Tamparan Keras: Surat “Kami Tidak Mampu” Namun, upaya Kapus menutupi borok pelayanan dengan mencari kambing hitam seketika runtuh oleh fakta lapangan. Beberapa jam usai apel, Anggota DPRK Aceh Selatan, Zalfazli dan Mursidi, melakukan inspeksi mendadak (Sidak).
Zalfazli dibuat terperangah saat menemukan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) kosong melompong tanpa petugas jaga. Namun, yang paling menohok adalah ditemukannya selembar kertas putih yang ditempel dengan selotip di pintu kaca utama.
Ironisnya, tepat di bawah stiker resmi bertuliskan “Dimohon Untuk Tidak Mengambil Gambar/Foto”, tertempel tulisan tangan para petugas yang berbunyi: “KAMI TIDAK MAMPU MELAYANI AKIBAT LAMPU TIDAK HIDUP”.
Pesan tersebut menjadi monumen kegagalan manajemen di bawah kepemimpinan Masliza. Genset merek Starke 16 kW yang tersedia di dalam kerangkeng besi pun terpantau bisu, tak dioperasikan untuk menunjang layanan darurat.
Fasilitas Jorok dan “Mati Suri” Investigasi Sarannews menelusuri lebih jauh ke dalam gedung. Temuan di lapangan menggambarkan kondisi yang jauh dari standar kesehatan. Dokumentasi foto memperlihatkan kasur-kasur pasien rawat inap yang kusam, robek, dan bernoda, seolah tidak pernah diganti atau dibersihkan.
Kondisi sanitasi pun memprihatinkan. Kamar mandi pasien terlihat berlumut dengan bak air yang kotor. Lebih parah lagi, tumpukan karung berisi sampah dan limbah medis dibiarkan menumpuk di sudut-sudut ruangan terbuka dan lorong, menciptakan pemandangan kumuh yang berbahaya bagi kesehatan.








