Antara Hidup dan Gelombang: Nelayan Kuala Ba’u Berjuang di Tengah Mahalnya Biaya Melaut

  • Bagikan

ACEH SELATAN | SaranNews – Aktivitas melaut tetap menjadi urat nadi bagi warga pesisir Desa Kuala Ba’u, Kecamatan Kluet Utara. Di balik hamparan laut Aceh Selatan, tersimpan kisah perjuangan nelayan seperti T. Arbi yang harus bertaruh dengan ketidakpastian cuaca dan fluktuasi harga ikan, Senin (12/1/2026).

Menggunakan perahu mesin dengan 3 hingga 5 awak, Arbi biasanya mampu membawa pulang 50 hingga 100 kilogram ikan campur, seperti tongkol dan kembung, dalam sekali melaut jika cuaca bersahabat.

Namun, pendapatan kotor yang berkisar antara Rp1 juta hingga Rp3 juta tersebut belum bisa dikatakan keuntungan bersih. Arbi mengungkapkan bahwa biaya operasional untuk bahan bakar (BBM), es balok, dan logistik awak kapal cukup mencekik.

“Biaya operasional sekali jalan saja bisa habis Rp400 ribu sampai Rp1 juta. Belum lagi kalau cuaca buruk, kami terpaksa tidak melaut berhari-hari,” ungkap Arbi saat ditemui di pesisir Kuala Ba’u.

Selain faktor alam, masalah harga di tingkat pengepul yang sering anjlok saat tangkapan melimpah menjadi pukulan tambahan bagi nelayan kecil. Arbi sangat berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah terkait ketersediaan subsidi BBM dan peralatan tangkap yang lebih modern.

“Kami butuh stabilitas harga ikan dan subsidi BBM agar hasil kerja keras di laut bisa benar-benar dirasakan untuk kebutuhan keluarga,” pungkasnya.

Kisah T. Arbi merepresentasikan realitas nelayan di Aceh Selatan yang terus bertahan di tengah tekanan ekonomi, demi memastikan laut tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang. (KB)

Penulis: Khairul BadriEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *