BIREUEN | SaranNews – Berdiri megah di jantung Kota Gandapura, Kabupaten Bireuen, Masjid Taqwa bukan sekadar tempat bersujud. Di balik dindingnya yang kokoh, tersimpan sejarah panjang kemandirian umat yang telah berdenyut lebih dari satu abad.
Jejak masjid ini bermula pada tahun 1918, saat ulama kharismatik H. Syakubat atau “Nek Bat” mendirikan fondasi pertamanya di atas tanah pribadi yang kemudian diwakafkan pada 1920. Kini, di bawah kepemimpinan Tgk H. Yusuf Ali dan Ismail Adam, masjid ini bertransformasi menjadi simbol gotong royong modern.
Salah satu fakta paling mencengangkan adalah kemandirian pendanaannya. Ismail Adam, tokoh kunci pembangunan masjid, mengungkapkan bahwa dari total Rp6 miliar dana renovasi yang telah terserap hingga 2023, sebanyak 98% murni berasal dari kantong masyarakat Gandapura dan donatur.
“Kontribusi pemerintah tercatat hanya sekitar 2%. Selebihnya adalah kekuatan swadaya umat,” ungkap Ismail, Jumat (9/1/2026).
Meski progres pembangunan fisik baru mencapai 70% dan masih membutuhkan dana sekitar Rp3-4 miliar untuk penyelesaian menara dan interior, pengurus masjid sudah menatap visi yang lebih jauh. Mereka tak hanya ingin membangun gedung, tapi juga membangun peradaban ekonomi.
Ismail memaparkan tiga pilar utama masa depan Masjid Taqwa: sebagai pusat ibadah yang nyaman, pusat pendidikan beasiswa santri, dan pusat pemberdayaan ekonomi umat.
“Kami ingin masjid ini memberikan bantuan usaha tanpa bunga bagi jamaah ekonomi lemah. Harapannya, pemerintah bisa membantu mengoptimalkan potensi tanah wakaf yang besar ini agar masjid benar-benar mandiri menghidupi masyarakatnya,” pungkasnya. (DI)












