Peulumat, Senin Senja. Langit di atas kediaman pribadi Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan MS, tampak kelabu. Halaman rumah itu sepi, lampunya redup, tak ada tanda-tanda kehidupan. Ironisnya, tepat di depannya, sebuah baliho raksasa bergambar wajah sang Bupati bersama istri berdiri gagah, disorot lampu sorot yang terang benderang, tersenyum menyapa jalanan yang sunyi.
Pemandangan kontras di Peulumat ini seolah menjadi simbol sempurna bagi situasi Aceh Selatan hari ini: Wajah pemimpinnya hadir cemerlang dalam baliho dan spanduk, namun sosok aslinya hilang ditelan kegelapan saat rakyat membutuhkannya.
Kabar yang diterima redaksi Sarannews.net, sang “Kapten” kini sudah mendarat di Banda Aceh. Diperintahkan pulang oleh Menteri Dalam Negeri, ditegur keras oleh Presiden, dan ditinggalkan oleh partainya sendiri. Kepulangan ini bukanlah kepulangan seorang jemaah yang membawa air zam-zam dengan senyum sumringah, melainkan kepulangan seorang pejabat negara yang harus menghadapi “mahkamah” birokrasi dan pengadilan opini publik.
Menanti Langkah Pertama di Tanah Tuan Tapa
Hari ini atau esok, roda kendaraan Bupati akan kembali menyentuh aspal Aceh Selatan. Publik tidak menunggu oleh-oleh kurma. Publik menunggu satu hal: Sikap.
Skenario apa yang akan Bapak mainkan setibanya di sini?
Apakah Bapak akan memilih skenario “Kambing Hitam”? Menyalahkan staf yang menyodorkan surat pernyataan “tidak sanggup”? Menyalahkan bawahan yang tidak mengurus izin Gubernur? Menyalahkan “pembisik” yang menjerumuskan? Ingat Pak, tanda tangan di atas kertas itu adalah tangan Bapak, bukan tangan pembisik. Pemimpin sejati tidak melempar kesalahan pada anak buah.
Atau Bapak akan memilih skenario “Playing Victim” (Seolah Terzalimi)? Menggunakan narasi bahwa Bapak sedang dizalimi pusat karena ingin beribadah? Jika ini yang dipilih, sungguh Bapak sedang memperlebar jurang dengan akal sehat rakyat. Ibadah adalah urusan privat, tapi tanggung jawab melindungi rakyat saat bencana adalah sumpah jabatan yang disaksikan Tuhan.
Ujian Kenegarawanan
Redaksi Sarannews.net menyarankan satu skenario yang mungkin pahit, tapi terhormat: Skenario Ksatria.
Pulanglah. Jangan sembunyi di balik punggung loyalis atau buzzer yang berteriak-teriak di media sosial membela hal yang tak bisa dibela. Berdirilah tegak di hadapan rakyat yang kebanjiran. Katakan maaf secara jantan. Akui bahwa meninggalkan daerah saat darurat adalah kekeliruan penilaian (misjudgment). Cabut surat pernyataan “menyerah” itu, dan buktikan Bapak sanggup memimpin pemulihan tanpa harus mengemis status bencana nasional dengan cara yang memalukan.
Rumah di Peulumat boleh saja gelap malam ini. Tapi jangan biarkan harapan rakyat Aceh Selatan ikut menjadi gelap karena pemimpinnya enggan menyalakan lilin tanggung jawab.
Selamat datang kembali, Pak Bupati. Lumpur sisa banjir masih basah, dan tumpukan berkas masalah, mulai dari gaji honorer, mutasi, hingga Baitul Mal sudah menunggu di meja kerja Bapak. Liburan sudah usai, saatnya “cuci piring”.[Redaksi]











