Banda Aceh | SaranNews – Kota Banda Aceh masih diliputi kegelapan menyusul pemadaman listrik yang berlangsung sejak pagi dan belum sepenuhnya pulih hingga dini hari. Situasi tersebut memaksa warga mengungsi ke berbagai warung kopi yang mengoperasikan genset sebagai sumber listrik alternatif. Pantauan hingga pukul 01.00 dini hari memperlihatkan seluruh warkop yang memiliki pasokan listrik dipadati pengunjung, dari kawasan pusat kota hingga ke pinggiran.
Pemadaman luas ini dipastikan dipicu robohnya tiang transmisi PLN berkapasitas 150 kV di kawasan Arun, Bireuen. Insiden tersebut menyebabkan aliran listrik ke sejumlah wilayah Aceh terganggu dan terputus berkepanjangan. Dampaknya terasa signifikan di Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, dan sejumlah daerah lainnya.
Sejak pagi, masyarakat terlihat mencari tempat berlistrik untuk kebutuhan mendesak. Para pekerja yang bergantung pada perangkat elektronik membawa laptop, charger, hingga kabel roll ke warkop-warkop yang tetap menyala. Beberapa warkop bahkan kewalahan menampung jumlah pengunjung, menyebabkan antrean untuk mendapatkan colokan listrik.
Meski penyebab pemadaman sudah diketahui, belum ada informasi pasti dari pihak terkait mengenai estimasi pemulihan total jaringan. Kondisi cuaca yang sejak pagi diguyur hujan juga memperburuk situasi dan menghambat proses perbaikan lapangan.
Di tengah kepadatan suasana warkop, Wandi, salah satu warga yang ikut mencari pasokan listrik darurat, menyampaikan harapannya. “Semoga listrik cepat pulih dan cuaca dapat cerah,” ujarnya singkat.
Pemadaman yang meluas akibat robohnya infrastruktur transmisi ini kembali memunculkan pertanyaan tentang ketahanan jaringan listrik Aceh, terutama ketika insiden tunggal dapat memicu blackout besar di berbagai kota. Hingga laporan ini dirilis, masyarakat masih menunggu informasi resmi mengenai progres perbaikan dan kapan aliran listrik dipastikan kembali normal. [red]











