Ironi HUT ke-69 Aceh Selatan, Mahasiswa: Setop Seremoni, Tuntaskan Konflik Agraria dan Keterisolasian!

  • Bagikan

BANDA ACEH | SaranNews – Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Aceh Selatan ke-69 mendapat sorotan tajam dari kalangan mahasiswa. Rivaldi, Ketua Umum HMI FKIP Universitas Syiah Kuala (USK) yang juga putra asli daerah tersebut, menolak terjebak dalam euforia perayaan. Ia melayangkan kritik keras kepada Pemerintah Daerah Aceh Selatan agar tidak hanya sibuk dengan seremoni tahunan, sementara persoalan mendasar rakyat dibiarkan menumpuk.

Bagi Rivaldi, angka 69 tahun seharusnya menjadi ‘alarm bahaya’, bukan sekadar alasan untuk pesta pora. Ia menilai, di usia yang semakin matang, Aceh Selatan justru masih menyimpan “luka lama” yang tak kunjung diobati serius oleh pemerintah daerah.

Konflik Agraria: Luka yang Dibiarkan Terbuka

Sorotan paling tajam tertuju pada konflik agraria. Rivaldi menegaskan, sengketa lahan yang berlarut-larut di Aceh Selatan bukan lagi isu pinggiran, melainkan ancaman nyata bagi hak hidup masyarakat dan stabilitas daerah.

“Konflik agraria ini sudah terlalu lama menjadi luka yang dibiarkan terbuka. Pemerintah harus hadir bukan sebagai penonton, tetapi sebagai penjamin keadilan. Jangan sampai ada pembiaran yang merugikan rakyat kecil,” tegasnya.

Ironi Infrastruktur di Usia Senja

Selain masalah lahan, Rivaldi menyebut ironi besar di usia 69 tahun Aceh Selatan adalah masih adanya wilayah yang terisolasi akibat infrastruktur buruk. Ia menekankan bahwa jalan yang rusak bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan bentuk pemutusan akses terhadap hak-hak dasar.

“Ini bukan hanya tentang jalan yang rusak. Ini tentang hak rakyat untuk terhubung, untuk mendapatkan pendidikan layak, layanan kesehatan cepat, dan kesempatan ekonomi yang sama. Di usia 69 tahun, keterisolasian semacam ini seharusnya tidak lagi terjadi,” ujarnya.

Pendidikan dan Kesejahteraan Masih Tertinggal

Rivaldi juga menyoroti sektor pendidikan dan masalah sosial lainnya seperti ketimpangan kesejahteraan dan minimnya lapangan kerja. Menurutnya, mutu pendidikan yang jauh dari ideal dan pelayanan publik yang belum optimal menunjukkan bahwa pemerintah belum berani melihat persoalan secara jujur.

Menutup pernyataannya, Rivaldi mendesak Pemda Aceh Selatan menjadikan HUT ke-69 sebagai momentum evaluasi total dan mengambil langkah berani, bukan sekadar menjalankan rutinitas pemerintahan dengan pola lama.

“Hari jadi ini pengingat bahwa Aceh Selatan harus lebih baik dari kemarin. Sudah saatnya pemerintah bergerak dengan kesadaran penuh, keberanian, dan keberpihakan nyata pada rakyat, bukan sekadar seremoni angka,” tutupnya.[red]

Penulis: AfrilyaEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *