Barat Selatan | SaranNews – Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Bio Solar subsidi di Wilayah Barat Selatan Aceh dilaporkan makin memburuk dan bersifat struktural. Hasil liputan sarannews menunjukkan bahwa masalah kekosongan stok dipicu oleh pemangkasan kuota harian oleh Pertamina, yang berdampak pada lumpuhnya pelayanan publik.
Di SPBU Blang Pidie, Kabupaten Abdya, kekosongan Bio Solar pada Rabu (19/11) telah terjadi sejak pukul 08.00 WIB pagi, yang berarti masyarakat menghadapi kekosongan hingga 10-11 jam sehari. Petugas SPBU, Nendra, mengonfirmasi data kuota: “Kami hanya dikirimi 8.000 KL dari 16 KL yang kami pesan,” ujarnya, memaparkan fakta pemangkasan kuota 50% dari kebutuhan ideal. Manajer SPBU Blang Pidie, Hanapiah, juga membenarkan data tersebut dan mendesak penambahan kuota agar pelayanan dapat dilakukan penuh waktu.
Direktur Perusahaan: Persoalan Lama, Arahkan ke Pemerintah Daerah
Permasalahan ini ternyata merupakan isu lama yang belum terpecahkan di tingkat manajemen perusahaan. Direktur perusahaan, H. Ruslan, saat dikonfirmasi sarannews melalui telepon, memberikan tanggapan singkat namun tegas.
H. Ruslan mengatakan, “Persoalan ini sudah lama, kami sudah mengupayakan penambahan kuota ke Pertamina, tapi itulah faktanya di lapangan sekarang, atau coba adek temui Bupati, nanti bagaimana pandangan beliau?” ucapnya singkat, mengalihkan fokus penyelesaian masalah ke instansi pemerintah daerah.
Layanan Publik Lumpuh, Mulai dari Labuhanhaji barat hingga Pasie Raja
Krisis BBM ini tidak hanya terpusat di Abdya, melainkan meluas ke seluruh Barat Selatan Aceh. Kekosongan Solar dan Pertalite juga terjadi di SPBU Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan. Direktur SPBU Tapaktuan, Indra, juga mengakui bahwa kekurangan stok membuat pelayanan 24 jam di SPBU-nya terganggu.
Sementara itu, kondisi terparah terjadi di Pasie Raja, di mana SPBU setempat sama sekali tidak melayani penjualan BBM jenis Solar. Pihak pengelola menegaskan kesiapan mereka: “Jika kami diberi kuota BBM jenis Solar saat ini, fasilitas kami cukup dan kami pun siap menebusnya.”
Dengan adanya pengakuan dari manajemen puncak bahwa upaya ke Pertamina belum membuahkan hasil, dan arahan langsung dari H. Ruslan untuk menemui Bupati, tekanan kini beralih kepada Pemerintah Kabupaten untuk mengintervensi dan mencari solusi permanen atas krisis suplai BBM yang melumpuhkan ekonomi lokal.[red]










