Stok BHP Kosong, Pelayanan HD di RSUDTP Abdya Mandek

  • Bagikan
Plt Direktur RSUDTP Abdya, dr Ismail Muhammad SpB. (Foto Muhammad Taufik/SaranNews.Net)

SaranNews.Net  – Pelayanan hemodialisa (HD) di UPTD Rumah Sakit Umum Daerah Teungku Peukan (RSUDTP) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terhenti selama dua pekan berlalu, sehingga pelayanan terhadap pasien hingga hari ini masih terkendala, Senin, 17 Maret 2025.

Menurut laporan masyarakat, pelayanan hemodialisa atau terapi cuci darah pada pasien penyakit gagal ginjal di rumah sakit kebanggaan masyarakat Abdya itu mengalami kendala, pasalnya bahan-bahan yang digunakan untuk proses melakukan cuci darah telah habis stok.

Akibat terkendala pelayanan cuci darah di rumah sakit tersebut, seluruh pasien yang selama ini melakukan terapi cuci darah disana dua kali dalam seminggu, kini terpaksa harus menahan diri dirumah hingga ketersediaan bahan-bahan kebutuhan kembali normal, hal ini bagi pasien tidak memiliki kemampuan biaya jika dirujuk ke rumah sakit lain.

Sedangkan bagi pasien yang memiliki kemampuan biaya untuk kebutuhan makan, minum dan penginapan jika dirujuk ke rumah sakit lain, hal tersebut bukanlah suatu kendala, karena untuk biaya cuci darah sudah ditanggung BPJS Kesehatan.

Menurut informasi dari petugas disana, sebanyak 30 orang pasien gagal ginjal selama ini secara rutin melakukan hemodialisa atau cuci darah dengan memanfaatkan fasilitas BPJS Kesehatan, namun ia kurang mengetahui kondisi pasien itu sekarang selama tidak bisa melakukan cuci darah.

“Pasien kita ada 30 orang, itu rutin melakukan cuci darah dua kali dalam seminggu, selama bahan ini habis stok mereka tidak bisa cuci darah, kecuali ada yang dirujuk ke rumah sakit lain,” ungkap petugas tak bersedia dicatut namanya.

Adapun bahan habis pakai (BHP) yang digunakan untuk hemodialisa ialah Dialyzer, yakni alat penyaring khusus dan Dialisat (cairan khusus). Selanjutnya ada fiber blood line yang juga merupakan bahan habis pakai untuk kebutuhan cuci darah pasien.

Ia menyebutkan ada pasien gagal ginjal meninggal dunia dalam rentan waktu dua pekan ini, ia mengakui pasien tersebut meninggal saat di rujuk ke rumah sakit luar Abdya.

“Iya, ada informasi pasien cuci darah meninggal, tapi tidak tahu persis apa penyebabnya, karena dirujuk dari IGD (Instalasi Gawat Darurat),” sebutnya.

Sementara, Plt Direktur UPTD RSUDTP Abdya, dr Ismail Muhammad SpB dikonfirmasi SaranNews.net mengatakan, bahwa BHP yang biasa digunakan cuci darah pada ruang hemodialisa telah dipesan ulang barangnya ke KSO PT Pari Padang Global Medan di Medan, Sumatera Utara.

“Informasi dari distributor BHP sudah dalam perjalanan dari Medan, kalau besok sampai (tiba di Abdya) InsyaAllah pelayanan HD langsung bisa dikerjakan,” ujar Plt Direktur, dr Ismuha.

Untuk diketahui, biaya hemodialisa atau cuci darah ditanggung oleh BPJS Kesehatan. BPJS menanggung penggantian biaya kantong darah sebesar Rp360.000 per kantong darah, alat dan bahan medis sekali pakai, bahan habis pakai, jasa pelayanan dan jasa pengiriman pelayanan CAPD.

Sedangkan, jika pasien tidak memiliki BPJS Kesehatan maka harus membayar berkisar Rp800.000 hingga Rp1.500.000 per setiap melakukan cuci darah.|MT

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *