Banda Aceh | SNN – Jalan berlubang yang terus bermunculan di sejumlah titik Kota Banda Aceh kembali memantik keluhan warga. Namun yang lebih mengkhawatirkan, kerusakan ini bukanlah masalah baru, melainkan persoalan berulang yang seolah tak pernah benar-benar diselesaikan. Sorotan tajam datang dari Anggota Komisi III DPRK Banda Aceh, Ramza Harli, yang menilai pola perbaikan jalan selama ini cenderung hanya bersifat “tambal sulam” tanpa kualitas yang jelas.
Alih-alih bertahan lama, sejumlah titik jalan justru kembali rusak dalam waktu relatif singkat setelah diperbaiki. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar apakah proyek perbaikan jalan selama ini benar-benar dikerjakan sesuai standar, atau sekadar menggugurkan kewajiban
“Jangan sampai setiap tahun anggaran habis untuk hal yang sama, tapi hasilnya tidak pernah berubah,” tegas Ramza.
Ia menilai, praktik perbaikan yang hanya menutup permukaan tanpa menyentuh struktur dasar jalan menjadi akar persoalan. Akibatnya, jalan yang diperbaiki cepat kembali berlubang, terutama saat diguyur hujan atau dilalui kendaraan berat.
Kondisi ini tidak hanya berpotensi merugikan masyarakat dari sisi kenyamanan, tetapi juga membuka indikasi pemborosan anggaran daerah. Proyek yang berulang di titik yang sama setiap tahun dinilai tidak mencerminkan perencanaan yang matang.
“Kalau kualitasnya rendah dan terus diulang, ini bukan lagi soal teknis, tapi soal keseriusan dalam mengelola anggaran,” ujarnya.
Sebagai ibu kota provinsi, Banda Aceh dinilai belum menunjukkan wajah kota dengan infrastruktur yang layak dan berkelanjutan. Padahal, jalan merupakan urat nadi aktivitas masyarakat, mulai dari mobilitas harian hingga distribusi ekonomi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, masyarakatlah yang akan menanggung dampaknya mulai dari terganggunya mobilitas, meningkatnya risiko kecelakaan, hingga terhambatnya aktivitas ekonomi. [TP]











