BIREUEN | SNN – Sistem buka-tutup arus lalu lintas di kawasan Jembatan Bailey Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, dikeluhkan pengguna jalan. Penerapan durasi antrean yang mencapai satu jam untuk satu kali melintas dinilai tidak efisien dan memicu penumpukan kendaraan yang luar biasa panjang di kedua sisi jalur lintas nasional tersebut.
Keluhan salah satunya datang dari Andi, seorang sopir truk muatan yang terjebak dalam antrean panjang. Menurutnya, waktu tunggu selama satu jam terlalu kaku dan justru memperparah kemacetan hingga mengular ke kawasan pemukiman warga. Ia berharap durasi pergantian arus bisa diperpendek agar kendaraan tidak menumpuk terlalu lama di satu titik.
“Kalau menunggu sampai satu jam baru gantian, antreannya jadi sangat berat. Seharusnya bisa lebih fleksibel, jangan dipatok per jam karena waktu kami habis di jalan hanya untuk menunggu satu titik ini saja,” ujar Andi saat ditemui di tengah kemacetan, Senin (6/4/2026).
Hal senada diungkapkan oleh Zulkifli, pengendara mobil penumpang dari Kota Banda Aceh yang juga melintasi jalur tersebut menuju wilayah Aceh Timur. Ia menilai ada celah waktu di mana arus dari arah berlawanan sebenarnya sudah sepi atau kosong, namun jalur sebelahnya tetap tidak diperbolehkan melintas karena durasi waktu yang ditetapkan petugas belum habis.
“Pasti ada momen di mana dari sisi sana sudah tidak ada lagi mobil yang lewat. Seharusnya petugas langsung mengalihkan arus dari sini, tidak perlu menunggu sampai genap satu jam. Kalau sering bergantian meski durasinya sebentar, arus akan lebih mengalir daripada berhenti total seperti ini,” kata Zulkifli.
Para pengendara berharap adanya evaluasi dari petugas di lapangan terkait skema pengaturan lalu lintas di Kutablang. Fleksibilitas dalam melihat kondisi riil kepadatan kendaraan dianggap menjadi solusi agar kemacetan di jalur penghubung antar-kabupaten ini bisa lebih terurai. (DI)











