H+6 Lebaran, Rekayasa Lalu Lintas di Kutablang Masih Berlaku Jelang Puncak Arus Balik

  • Bagikan

BIREUEN | SNN – Memasuki hari raya ke-6 Idulfitri 1447 H, rekayasa lalu lintas di jalur lintas nasional Banda Aceh–Medan, tepatnya di kawasan Jembatan Bailey Kuta Blang, Kecamatan Kuta Blang, masih terus diberlakukan. Kebijakan ini dipertahankan menjelang puncak arus balik lebaran guna menjaga kelancaran arus kendaraan.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada Kamis (26/3/2026) sore, arus lalu lintas terpantau relatif lancar tanpa antrean panjang. Petugas dari Satlantas Polres Bireuen masih disiagakan di sejumlah titik untuk mengatur pergerakan kendaraan, khususnya di area jembatan yang menjadi titik krusial.

Sebelumnya, Komandan Pos Pengamanan Pelayanan Operasi Ketupat Polres Bireuen, M. Rizal, menjelaskan bahwa penerapan rekayasa lalu lintas berupa sistem satu arah (one way) dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan selama periode mudik dan arus balik. “Untuk sementara rekayasa lalu lintas ini berlaku rentangnya sesuai dengan petunjuk dari polres, yaitu selama masa mudik, dengan tujuan untuk mengurangi macet. Rekayasa ini sangat membantu karena bisa menghindari antrean panjang,” ujarnya dalam keterangan sebelumnya.

Skema pengalihan arus masih mengacu pada aturan sebelumnya, di mana kendaraan dari arah Medan menuju Banda Aceh diarahkan melintasi Jembatan Bailey Awe Geutah. Sementara itu, kendaraan berat di atas 10 ton tetap diberikan kelonggaran untuk melintas secara bergantian di Jembatan Bailey Kuta Blang, mengingat adanya batasan tonase di jalur alternatif tersebut.

Petugas di lapangan juga masih menerapkan sistem buka-tutup secara situasional dengan melihat kepadatan arus kendaraan. Jika arus dari arah Banda Aceh terpantau lengang, kendaraan dari arah Medan, khususnya kendaraan berat, diperbolehkan melintas guna menjaga keseimbangan arus.

Dengan masih diberlakukannya rekayasa lalu lintas ini, masyarakat yang hendak melakukan perjalanan arus balik diimbau untuk tetap mematuhi arahan petugas dan rambu yang ada, serta mengatur waktu perjalanan agar terhindar dari potensi kepadatan saat puncak arus balik berlangsung. (DI)

Penulis: Dhilal IkhsaniEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *