TAPAKTUAN |SNN – Di tengah jeritan pelanggan yang kesulitan mendapatkan air bersih pada jam aktivitas dan kondisi keuangan perusahaan yang dilaporkan “kritis”, Manajemen Perumda Tirta Naga justru menggelar seremonial kenaikan status pegawai di salah satu hotel di Tapaktuan, Rabu (14/1/2026).
Langkah manajemen di bawah pimpinan Direktur Abdillah ini memicu sorotan tajam. Pasalnya, prioritas anggaran dan fokus kinerja perusahaan daerah tersebut dinilai tidak peka terhadap krisis layanan yang sedang terjadi di lapangan.
Paradoks “Penguatan SDM” vs Kas Perusahaan Dalam acara yang dihadiri Plt. Bupati Aceh Selatan, H. Baital Mukadis tersebut, Direktur PDAM Tirta Naga melantik empat pegawai yang sebelumnya berstatus 80 persen menjadi pegawai tetap (100 persen). Abdillah mengklaim langkah ini sebagai strategi “penguatan SDM” untuk menghadapi tantangan tahun 2026.
Namun, klaim tersebut bertolak belakang dengan fakta kesehatan finansial perusahaan. Berdasarkan data yang dihimpun, Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK atas laporan keuangan tahun sebelumnya mencatat saldo penyertaan modal pemerintah daerah berada di angka “nol rupiah”. Selain itu, perusahaan juga masih memikul beban tunggakan pelanggan mencapai Rp1,16 miliar.
Keputusan mengangkat pegawai menjadi tetap yang secara otomatis akan menambah beban biaya operasional rutin (gaji dan tunjangan) dalam jangka Panjang dipertanyakan urgensinya. Publik menilai manajemen seharusnya lebih dulu fokus pada efisiensi anggaran untuk perbaikan teknis ketimbang menambah beban perusahaan yang sedang disubsidi.
Seremonial di Hotel, Warga Menunggu Air Menetes Kontras yang paling mencolok terlihat dari lokasi kegiatan. Sementara para pejabat dan pegawai PDAM berada di kenyamanan ruang ber-AC Hotel Caterine untuk acara pelantikan, warga Tapaktuan justru sedang berjuang dengan keran yang kering.
Keluhan yang mencuat di berbagai media dan forum warga menyebutkan bahwa distribusi air PDAM Tirta Naga memiliki pola yang menyiksa: mati total di siang hari saat warga butuh memasak dan mencuci, dan baru mengalir kecil pada tengah malam saat warga tidur.
“Bayar lancar, tapi air jatah. Siang mati total,” keluh salah satu warga yang enggan disebut namanya. Kondisi ini memaksa sebagian masyarakat mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air galon demi kebutuhan dasar.
Menagih Janji 6 Bulan Direktur Situasi ini menjadi ujian berat bagi Direktur Abdillah yang dilantik pada Agustus 2025 lalu. Saat pelantikan, Bupati menekankan mandat untuk melahirkan inovasi dan memberikan pelayanan terbaik. Kini, memasuki bulan keenam masa jabatannya, publik belum melihat perubahan signifikan pada kualitas distribusi air.
Alih-alih terobosan teknis yang menuntaskan masalah “air mati siang hari”, manajemen justru mempertontonkan kesibukan administratif dan seremonial.
Plt. Bupati Baital Mukadis dalam sambutannya di hotel tersebut sempat menyinggung soal “integritas” dan “kepercayaan publik”. Namun, integritas manajemen Tirta Naga kini sedang diuji: apakah mereka hadir untuk melayani kebutuhan dasar rakyat, atau sekadar mengamankan kenyamanan internal birokrasi perusahaan? [Tim Redaksi]












