Geger Video Pasien Terlantar, RSUDYA Tapaktuan Gagal Paham Arti “Darurat”?

  • Bagikan

TAPAKTUAN | Sarannews – Jagat maya di Aceh Selatan mendadak geger pada Rabu (21/1/2026). Sebuah video memilukan beredar cepat, memperlihatkan pemandangan yang mengiris hati: seorang pria paruh baya terkapar tak berdaya di atas bak terbuka mobil pick-up tepat di depan gerbang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Bukannya segera mendapatkan penanganan di ruang medis yang dingin dan steril, tubuh pasien itu justru terbiarkan di udara terbuka, beralaskan tikar tipis dengan kaki yang hanya disangga sebatang bambu. Suara wanita dalam rekaman tersebut terdengar bergetar menahan amarah, meneriakkan kekecewaan yang mendalam.

“Pasien sudah menjerit-jerit minta tolong… Perawatnya sibuk sendiri, nggak ada yang open (peduli)!” protes wanita tersebut dengan nada tinggi. Narasi tentang pasien yang “dibiarkan” dan “tidak ada tempat” pun liar menyebar, memancing emosi publik yang mempertanyakan nurani pelayanan di RSUD dr. H. Yuliddin Away (RSUDYA) Tapaktuan.

Namun, apa yang terjadi di balik drama kemanusiaan di pelataran IGD tersebut? Benarkah rumah sakit pelat merah itu menutup mata pada penderitaan pasien?

Menjawab bola panas yang bergulir di masyarakat, Direktur RSUDYA Tapaktuan Dr. Erizaldi, M.Kes.,Sp.OG. langsung memberikan klarifikasi kepada Sarannews saat dikonfirmasi, Ia menampik adanya unsur kesengajaan atau penelantaran. Menurutnya, situasi di dalam IGD saat itu sedang dalam kondisi “merah” atau sangat krusial.

“Pasien datang ke UGD pada saat kondisi sedang mengalami lonjakan jumlah pasien yang luar biasa, sehingga seluruh tempat tidur perawatan dalam keadaan terisi penuh. Bahkan, beberapa pasien lain terpaksa masih berada di kursi roda karena keterbatasan tempat tidur,” ungkap Direktur RSUDYA.

Situasi makin pelik karena di detik-detik yang sama, tim medis di dalam ruangan tengah berjibaku dengan maut menyelamatkan nyawa pasien lain yang mengalami serangan jantung. Hal ini memaksa petugas melakukan triage atau pembagian prioritas berdasarkan tingkat kegawatdaruratan yang paling mengancam nyawa.

“Pada waktu bersamaan, ada pasien lain kondisi berat serangan jantung yang sedang ditangani petugas. Oleh karena itu, dilakukan pembagian tugas dan prioritas pelayanan secara bertahap,” jelasnya.

Meski demikian, pihak RS membantah membiarkan pasien Tn. H (56). Petugas disebut telah melakukan pemeriksaan awal di mobil. Karena desakan keluarga yang ingin pasien segera masuk sementara kasur habis, petugas akhirnya mengambil langkah inisiatif darurat dengan menggunakan brankar ambulans sebagai tempat tidur sementara agar pasien warga Lhokbengkuang itu bisa segera ditangani.

Kabar baiknya, drama tersebut berakhir lega. Pihak manajemen memastikan pasien tersebut kini sudah mendapatkan pelayanan. “Saat ini pasien telah berada di ruang perawatan dan telah ditangani langsung oleh Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) Bedah,” pungkas Direktur menutup polemik tersebut.[red]

Penulis: Tim Redaksi sarannews.netEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *