ACEH BESAR | SaranNews – Di sebuah gubuk kayu sederhana di Gampong Piyeung Mon Ara, Kecamatan Montasik, denting gunting dan sisir menjadi saksi keteguhan hidup Suahadi. Pria kelahiran 1977 yang akrab disapa Bit Suadi ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk memangkas harga diri, Sabtu (17/1/2026).
Penyandang disabilitas sejak lahir ini telah menekuni profesi pangkas rambut sejak tahun 1992. Sebelum setia dengan profesi ini, Bit Suadi sempat menjajal berbagai pekerjaan mulai dari penjahit selama 10 tahun, montir radio, hingga pengrajin layang-layang.
“Saya yakin rezeki sudah Allah yang mengatur. Tugas saya hanya berusaha. Jika hari ini sepi, saya bersabar, pasti besok akan ada. Saya tidak mau menyalahkan keadaan,” ujar Bit Suadi dengan nada lirih namun penuh keyakinan.

Dari tarif awal Rp1.500 hingga kini menjadi Rp20.000 per orang, Bit Suadi terus berjuang menyekolahkan empat orang anaknya. Anak pertamanya kini tengah menempuh pendidikan di Dayah, sementara si bungsu masih balita. Kemandiriannya juga ditopang oleh bantuan peralatan dari berbagai pihak, yang ia gunakan bukan untuk bergantung, melainkan sebagai alat berdiri tegak.
Kisah Bit Suadi adalah pengingat bahwa di balik potongan rambut yang rapi, ada keteguhan hati yang tak pernah putus asa menghadapi terjalnya kehidupan. (Sr)












